MELAKSANAKAN
DETEKSI DINI KELAINAN, KOMPLIKASI DAN PENYULIT MASA KEHAMILAN TRIMESTER I, II
DAN III
Dosen
Pengampu: Ery Fatmawati, S.ST, S.Farm, Apt.

Disusun
Oleh:
Nur Zuliaty Ulfa
M10.02.0032
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Rasa syukur kami panjatkan serta kami
junjungkan kehadirat TUHAN yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat
dan karunianya sehingga makalah ini yang berjudul KOMPLIKASI DAN PENYULIT
KEHAMILAN TM I,TM II dan TM III dapat di selesaikan.
Makalah ini mencoba memberikan gambaran atau pengetahuan kepada para mahasiswa STIKes Madani ataupun pembaca tentang KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TM I,TM II dan TM III secara keseluruhan.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam peroses pembuatan makalah ini kami sampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada TIM dosen yang mengampu untuk matakuliah ini yang telah memberikan bimbingan, kami haturkan terimakasih yang tak terhingga.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang mambangun sangat kami harapkan. Dengan harapan makalah ini dapat berguna bagi banyak pihak,
Yogyakarta, 16 April 2012
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
KATA
PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.............................................................................. 1
B.
Tujuan............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Prinsip Deteksi Dini
Terhadap Kelainan, Komplikasi dan Penyulit
Pada Ibu Hamil............................................................................ 2
B. Komplikasi
dan Penyulit Pada Masa Kehamilan
Trimester
I dan II........................................................................ 6
C. Komplikasi
dan Penyulit Pada Masa Kehamilan Trimester III... 25
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................... ..................................... 38
B. Saran.............................................................................................. 38
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kesehatan
ibu dan anak merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation
(WHO) karena angka kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean
yang mempunyai angka kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan
dengan negara lain.
Menurut
SDKI (2003) angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran
hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya. AKI di Indonesia
bahkan lebih jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100.000 kelahiran hidup.
AKI di Indonesia sekitar 18.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan
dan persalinan, hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal
yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, hal ini berarti setiap setengah
jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan
dan nifas.
B.
Tujuan
1.
Mengetahui
tentang deteksi dini terhadap kelainan masa kehamilan pada trimester
I, II dan III
2.
Mengetahui
tentang komplikasi dan penyulit masa kehamilan trimester I, II dan III
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Prinsip
Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyulit Pada Ibu Hamil
Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun
emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. Seorang ahli medis
menghadapi suatu tugas yang tidak biasa dalam memberikan dukungan pada ibu dan
keluarganya dalam merencanakan penyambutan anggota keluarga yang baru, memantau
perubahan-perubahan fisik yang normal yang dialami ibu serta tumbuh kembang
janin, juga mendeteksi serta menatalaksana setiap kondisi yang tidak normal.
Sistem penilaian resiko tidak dapat memprediksi apakah
ibu hamil akan bermasalah selama kehamilannya. Oleh karena itu,
pelayanan/asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung
kesehatan ibu hamil dan mendeteksi kehamilan.
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau
komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan
selama kehamilannya.
Kebijakan teknis yang dilaksanakan adalah :
1.
Mengupayakan kehamilan yang sehat
2.
Melakukan deteksi dini komplikasi,
melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3.
Persiapan persalinan yang bersih dan
aman
4.
Perencanaan antisipatif dan
persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.
Pemeriksaan kehamilan dini (early anc detection)
Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan /
dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan / asuhan antenatal.
Ketika seorang ibu mulai mendapatkan tanda presumtif
hamil seperti :
1.
Amenorhe
2.
mual dan muntah
3.
Mengidam
4.
Pingsan
5.
pembesaran payudara dan lain-lain.
6.
Atau ketika dia menemukan tanda
mungkin hamil seperti :
7.
pembesaran perut
8.
tes kehamilan positif,
9.
tanda hegar
10.
tanda piscazek
11.
tanda pembesaran uterus dan lain-lain
Diharapkan
ibu tersebut segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan baik itu bidan maupun
dokter.
Kontak dini kehamilan trimester 1
Kebijakan program untuk kunjungan ante natal minimal 4
kali selama kehamilan, terdiri dari :
1.
1 kali pada trimester pertama
2.
1 kali pada trimester kedua
3.
2 kali pada trimester ketiga
Pelayanan standar minimal yang diperoleh harus mencakup “
7 T ”
1.
Timbang berat badan
2.
Ukur Tekanan darah
3.
Ukur Tinggi Fundus Uteri
4.
Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid
(TT) lengkap
5.
Pemberian Tablet zat besi, minimal
90 tablet selama kehamilan (fe 60 mg, asam folat 500 ug).
6.
Tes terhadap penyakit menular
seksual
7.
Temu wicara dalam rangka persiapan
rujukan.
Dengan adanya kontak dini khususnya pada trimester I,
maka akan memudahkan kita dalam mendeteksi adanya kelainan atau komplikasi yang
mungkin dialami oleh ibu hamil dalam kehamilannya.
Skrining untuk deteksi
1.
Kunjungan I (16 minggu) dilakukan
untuk :
a.
Penapisan dan pengobatan anemia
b.
Perencanaan persalinan
c.
Pengenalan komplikasi akibat
kehamilan dan pengobatannya.
2.
Kunjungan II (24 – 28 minggu),
dilakukan untuk :
a.
Pengenalan komplikasi akibat
kehamilan dan pengobatannya.
b.
Penapisan preeklampsi, gemeli,
infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan
c.
Mengulang perencanaan persalinan
3.
Kunjungan III (32 minggu), dilakukan
untuk :
a.
Pengenalan komplikasi akibat
kehamilan dan pengobatannya.
b.
Penapisan preeklampsi, gemeli,
infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan
c.
Mengulang perencanaan persalinan
4.
Kunjungan IV (36 minggu), dilakukan
untuk :
a.
Sama seperti kegiatan kunjungan II
dan III
b.
Mengenali adanya kelainan letak dan
presentasi
c.
Memantapkan rencana persalinan
d.
Mengenali tanda-tanda persalinan.
|
Riwayat kehamilan ini
|
Riwayat obstetric lalu
|
Riwayat penyakit
|
Riwayat sosial ekonomi
|
|
1.
Usia ibu hamil
2.
HPHT, siklus haid
3.
perdarahan pervaginam
4.
keputihan
5.
mual dan muntah
6.
masalah/kelainan pada kehamilan sekarang
7.
pemakaian obat-obat (termasuk jamu-jamuan)
|
1.
jumlah kehamilan
2.
jumlah persalinan
3.
jumlah persalinan cukup bulan
4.
jumlah persalinan premature
5.
jumlah anak hidup
6.
jumlah keguguran
7.
jumlah aborsi
8.
perdarahan pada kehamilan,
persalin-an, nifas terdahulu
9.
adanya hipertensi dalam kehamilan
pada kehamilan terdahulu
10.
berat bayi < 2,5 kg atau
berat bayi > 4 kg
11.
Adanya masalah-masalah selama
kehamilan, persalin-an, nifas terdahulu
|
1.
Jantung
2.
tekanan darah tinggi
3.
DM
4.
TBC
5.
Pernah operasi
6.
Alergi obat / makanan
7.
Ginjal
8.
Asma
9.
Epilepsi
10.
Penyakit hati
11.
Pernah kecelakaan
|
1.
Status perkawinan
2.
respon ibu dan keluarga terhadap
kehamilan
3.
jumlah keluarga di rumah yang
membantu
4.
Siapa pembuat keputusan dalam
keluarga
5.
kebiasaan makan dan minum
6.
kebiasaan merokok, menggunakan
obat-obat dan alkohol
7.
kehidupan seksual
8.
pekerjaan dan aktivitas
sehari-hari
9.
pilihan tempat untuk melahirkan
10.
pendidikan
11.
penghasilan
|
B.
Komplikasi
Dan Penyulit Pada Masa Kehamilan Trimester I dan II
1.
Anemia Dalam Kehamilan
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin
(protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.
Ukuran
hemoglobin normal:
a)
Laki-laki sehat mempunyai Hb: 14
gram – 18 gram
b)
Wanita sehat mempunyai Hb: 12 gram –
16 gram
Tingkat pada anemia
a.
Kadar Hb 10 gram – 8 gram disebut
anemia ringan
b.
Kadar Hb 8 gram – 5 gram disebut
anemia sedang.
c.
Kadar Hb kurang dari 5 gram disebut
anemia berat.Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh
Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut
menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%, disebut anemia
berat, atau bila kurang dari 6 gr%, disebut anemia gravis.
Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan
hematokrit 35-54%. Angka-angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil;
terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh karena itu,
pemeriksaan hematokrot dan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin
selama pengawasan antenatal. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan
atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan
sekali lagi pada triwulan akhir.
a.
Penyebab anemia umumnya adalah:
1)
Kurang gizi (malnutrisi)
2)
Kurang zat besi dalam diet
3)
Malabsorpsi
4)
Kehilangan darah yang banyak:
persalinan yang lalu, haid dan lain-lain.
5)
Penyakit-penyakit kronis: tbc, paru,
cacing usus, malaria dan lain-lain.
Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah (hiperemia/ hipervolumia)
karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding
pertambahannya dengan plasma darah.
Perbandingan pertambahan tersebut adalah:
a)
Plasma darah bertambah: 30 %
b)
Sel-sel darah bertambah: 18 %
c)
Hemoglobin bertambah: 19 %
Secara fisiologis, pengenceran darah ini adalah untuk
membantu meringankan kerja jantung.
2.
Gejala
Gejala-gejala yang disebabkan oleh
pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa
menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang.
Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.
Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.
3.
Diagnosa
Pemeriksaan darah sederhana bisa
menentukan adanya anemia.
Persentase rel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh darah bisa ditentukan.
Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah komplit (CBC).
Persentase rel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh darah bisa ditentukan.
Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah komplit (CBC).
4.
Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan,
Persalinan dan Nifas:
a)
Keguguran
b)
Partus prematurus
c)
Inersia uteri dan partus lama, ibu
lemah
d)
Atonia uteri dan menyebabkan
pendarahan
e)
Syok
f)
Afibrinogenemia dan
hipofibrinogenemia
g)
Infeksi intrapartum dan dalam nifas
h)
Bila terjadi anemia gravis (Hb di
bawah 4 gr%) terjadi payah jantung yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan
persalinan. Bahkan basa fatal.
5.
Pengaruh Anemia terhadap Hasil
Konsepsi
Hasil konsepsi (janin, plasenta,
darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir
darah merah dan pertumbuhannnya, yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini
merupakan 1/10 dari seluruh besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan
bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati, limpa, dan sumsum tulang.
Selama masih mempunyai cukup
persediaan besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan
turun. Ini terjadi pada bulan ke 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan
banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi
adalah:
1)
Kematian mudigah (keguguran)
2)
Kematian janin dalam kandungan
3)
Kematian janin waktu lahir
(stillbirth)
4)
Kematian perinatal tinggi
5)
Prematuritas
6)
Dapat terjadi cacat bawaan
7)
Cadangan besi kurang
2.
Hiperemesis
Gravidarum
a.
Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual –
muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari – hari dan
bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)
Wanita hamil memuntahkan segala apa
yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit
berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut
hiperemesis gravidarum. (Sastrawinata, 2004)
Hiperemesis gravidarum adalah suatu
keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana penderita mengalami mual- muntah yang
berlebihan, sedemikian rupa sehingga mengganggu aktivitas dan kesehatan
penderita secara keseluruhan. (Achadiat, 2004)
b.
Etiologi
Penyebab
hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor
mempunyai pengaruh antara lain:
1)
Faktor Predisposisi, sering terjadi
pada primigravida, mola hidatidosa, kehamilan ganda karena peningkatan kadar
HCG
2)
Faktor Organik, karena masuknya Vili
khorialis dalam sirkulasi maternal, perubahan matabolik akibat hamil dan
resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari
jaringan ibu terhadap anak
3)
Faktor psikologik, memegang peranan
yang sangat penting, misalnya rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan,
takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai
ibu.
4)
Faktor endokrin lain, diabetes,
hipertiroid
c.
Gejala Dan Tingkat
Menurut berat
dan ringannya dibagi menjadi 3:
1)
Tingkat I : Ringan
Mual muntah terus menerus yang
menyebabkan penderita lemah, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, nyeri epigastrium
nadi sekitar 100x/mnt, tekanan darah sistolik turun, turgor kulit berkurang,
lidah kering, mata cekung.
2)
Tingkat II : Sedang
Mual dan muntah yang hebat
menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah, lemah, apatis, turgor kulit
mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik
(dehidrasi), ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun,
hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi, dapat pula terjadi asotonuria, dari
nafas berbau aseton
3)
Tingkat III : Berat
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat
menurun, somnolen sampai koma, nadi kecil, halus dan cepat, dehidrasi berat,
suhu badan naik, tensi turun sekali, ikterus. Dapat terjadi ensekalopati
wernicke.
2.
Diagnosis
Diagnosis
hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan
muda dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun
demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis,
hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala
muntah.
Hiperemesis
gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat
mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.
3.
Patofisiologis
Hiperemesis
gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila
terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya
elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Faktor psikologis merupakan faktor
utama, disamping pengaruh hormonal. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan
sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual, akan
mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.
Hiperemesis
gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbihidrat dan lemak habis terpakai
untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah
ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan
aseton dalam darah. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan
karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih.
Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke
jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen
kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat
ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati.
Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi
robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung, dengan akibat perdarahan
gastrointestinal.
d.
Pencegahan
Prinsip
pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum
dengan cara :
1)
Memberikan penerangan tentang
kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2)
Memberikan keyakinan bahwa mual dan
kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3)
Menganjurkan mengubah makan sehari –
hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4)
Menganjurkan pada waktu bangun pagi
jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit
dengan dengan teh hangat.
5)
makanan yang berminyak dan berbau
lemak sebaiknya dihindarkan
6)
Makanan seyogyanya disajikan dalam
keadaan panas atau sangat dingin
7)
Defekasi teratur
8)
Menghindari kekurangan karbohidrat
merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.
e.
Penatalaksanaan
Apabila dengan
cara diatas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan :
1)
Obat – obatan
a)
Sedativa : phenobarbital
b)
Vitamin : Vitamin B1 dan B6 atau B –
kompleks
c)
Anti histamin : Dramamin, avomin
d)
Anti emetik (pada keadan lebih
berat) : Disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin
Penanganan
hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.
2)
Isolasi
a)
Penderita disendirikan dalam kamar
yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik
b)
Catat cairan yang keluar masuk.
c)
Hanya dokter dan perawat yang boleh
masuk ke dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.
d)
Tidak diberikan makanan/minuman dan
selama 24 jam.
Kadang – kadang
dengan isolasi saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3)
Terapi psikologik
a)
Perlu diyakinkan kepada penderita
bahwa penyakit dapat disembuhkan
b)
Hilangkan rasa takut oleh karena
kehamilan
c)
Kurangi pekerjaan sera menghilangkan
masalah dan konflik
4)
Cairan parenteral
a)
Cairan yang cukup elektrolit,
karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan fisiologis (2 – 3
liter/hari)
b)
Dapat ditambah kalium, dan
vitamin(vitamin B kompleks, Vitamin C)
d)
Bila kekurangan protein dapat
diberikan asam amino secara intravena
e)
Bila dalam 24 jam penderita tidak
muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan minuman dan lambat laun makanan
yang tidak cair
Dengan
penanganan diatas, pada umumnya gejala – gejala akan berkurang dan keadaan akan
bertambah baik.
3.
Abortus
a.
Definisi
Abortus provocatus adalah istilah
Latin yang secara resmi dipakai dalam kalangan kedokteran dan hukum. Maksudnya
adalah dengan sengaja mengakhiri kehidupan kandungan dalam rahim seseorang
perempuan hamil. Karena itu abortus provocatus harus dibedakan dengan abortus
spontaneus, dimana kandungan seorang perempuan hamil dengan spontan gugur. Jadi
perlu dibedakan antara “ abortus yang disengaja” dan “abortus spontan”.
Secara medis abortus dimengerti
sebagai penghentian kehamilan selama janin belum viable, belum dapat hidup
mandiri di luar rahim, artinya sampai kira-kira 24 minggu atau sampai awal
trimester ketiga.
Abortus adalah ancaman atau
pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Berdasarkan
variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang
mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus
sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g atau usia
kehamilan 20 minggu. (terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)
b.
Etiologi
Abortus dapat terjadi karena
beberapa sebab, yaitu :
1.
Kelaianan pertumbuhan hasil
konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu.
Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah:
a)
Kelainan kromosom, terutama trisomi
autosom dan monosomi X
b)
Lingkungan sekitar tempat implantasi
kurang sempurna
c)
Pengaruh teratogen akibat radiasi,
virus, obat-obatan, tembakau atau alkohol.
2)
Kelainan pada plasenta, misalnya
endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
a)
Faktor maternal, seperti pneumonia,
tifus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis
b)
Kelainan traktus genetalia seperti
inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua) retroversi uteri,
mioma uteri dan kelainan bawaan uterus
c.
Patogenesis
Pada awal abortus terjadi perdarahan
desiduabasalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil
konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 6 minggu,
villi kotaris belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat
dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah
lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak
perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu
daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong
kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin
lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau
fetus papiraseus.
d.
Manifetasi Klinis
1)
Terlambat haid atau amenore kurang
dari 20 minggu.
2)
Pada pemeriksaan fisik : Keadaan
umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun,
denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3)
Perdarahan pervaginam, mungkin
disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
4)
Rasa mulas atau keram perut di
daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
5)
Pemeriksaan ginekologi :
a)
Inspeksi vulva : perdarahan
pervaginam ada / tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari
vulva
b)
Inspekulo : perdarahan dari kavum
uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari
ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dario ostium.
c)
Colok vagina : porsio masih terbuka
atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus
sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang,
tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak
nyeri.
6)
Pemeriksaan Penunjang
a)
Tes kehamilan : positif bila janin
masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus
b)
Pemeriksaan Doppler atau USG untuk
menentukan apakah janin masih hidup
c)
Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada
missed abortion
Komplikasi
Komplikasi
d)
Perdarahan, perforasi, syok dan
infeksi
e)
Pada missed abortion dengan retensi
lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah
e.
Jenis –Jenis Abortus
Berdasarkan keadaan janin yang sudah
dikeluarkan, abortus dibagi atas :
1)
Abortus Iminens
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya
perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi
masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Ciri : perdarahan pervaginam, dengan atau tanpa
disertai kontraksi, serviks masih tertutup Jika janin masih hidup, umumnya
dapat bertahan bahkan sampai kehamilan aterm dan lahir normal. Jika terjadi
kematian janin, dalam waktu singkat dapat terjadi abortus spontan. Penentuan
kehidupan janin dilakukan ideal dengan ultrasonografi, dilihat gerakan denyut
jantung janin dan gerakan janin. Jika sarana terbatas, pada usia di atas 12-16
minggu denyut jantung janin dicoba didengarkan dengan alat Doppler atau Laennec.
Keadaan janin sebaiknya segera ditentukan, karena mempengaruhi rencana
penatalaksanaan / tindakan.
Penatalaksanaan
a)
Istirahat baring agar aliran darah
ke uterus bertambah dan rangsang mekanik berkurang.
b)
Periksa denyut nadi dan suhu badan
dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap empat jam bila pasien panas.
c)
Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila
hasil negatif mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah
janin masih hidup.
d)
Berikan obat penenang, biasanya
fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600
-1.000 mg
e)
Diet tinggi protein dan tambahan
vitamin C
f)
Bersihkan vulva minimal dua kali
sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan
cairan coklat.
2)
Abortus Insipiens
Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya
perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi
serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam
uterus. Ciri : perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat makin
sering, serviks terbuka.
Penatalaksanaan :
a)
Bila perdarahan tidak banyak, tunggu
terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan
morfin
b)
Pada kehamilan kurang dari 12
minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus
memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret
tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.
c)
Pada kehamilan lebih dari 12 minggu,
berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrtose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per
menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
d)
Bila janin sudah keluar, tetapi
plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual.
3)
Abortus Inkomplit
Abortus inkompletus adalah peristiwa pengeluaran
sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa
tertinggal dalam uterus.
Ciri : perdarahan yang banyak, disertai kontraksi,
serviks terbuka, sebagian jaringan keluar.
Penatalaksanaan :
a)
Bila disertai syok karena perdarahan,
berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin
ditransfusi darah
b)
Setelah syok diatasi, lakukan
kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuskular