A. Definisi
Penyakit Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS). Lesi sifilis bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Penampakan lesi bisa dipastikan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual.
Penyakit ini bisa menular jika ia melakukan hubungan seksual dengan wanita lainnya. Namun tidak hanya sebatas itu, seorang ibu yang sedang hamil yang telah tertular penyakit ini bisa menularkannya kepada janinnya. Sifilis juga dapat diartikan sebagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan peyakit kronis dan dapat menyerang seluruh organ tubuh dan dapat ditularkan pada bayi di dalam kandungan melalui plasenta.
Penyakit Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS). Lesi sifilis bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Penampakan lesi bisa dipastikan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual.
Penyakit ini bisa menular jika ia melakukan hubungan seksual dengan wanita lainnya. Namun tidak hanya sebatas itu, seorang ibu yang sedang hamil yang telah tertular penyakit ini bisa menularkannya kepada janinnya. Sifilis juga dapat diartikan sebagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan peyakit kronis dan dapat menyerang seluruh organ tubuh dan dapat ditularkan pada bayi di dalam kandungan melalui plasenta.
Efek sipilis pada kehamilan dan janin tergantung pada lamanya infeksi
tersebut terjadi, dan pada pengobatannya. Jika segera diobati dengan baik, maka
ibu akan melahirkan bayinya sengan keadaan sehat. Tetapi sebaliknya jika tidak
segera diobati akan menyebabkan abortus dan partus prematurus dengan bayi
meninggal di dalam rahim atau menyebabkan sipilis kongenital. Sifilis
Kongenital terjadi pada bulan ke-4 kehamilan.
Apabila sifilis terjadi pada kehamilan tua, maka plasenta memberi
perlindungan terhadap janin sehingga bayi dapat dilahirkan dengan sehat. Dan
apabila infeksi sifilis terjadi sebelum pembentukan plasenta maka harus
dilakukan pengobatan dengan segera, sehingga kemungkinan infeksi pada janin
dapat dicegah.
B. Etiologi
Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum. Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral. Terdapat empat subspecies yang sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum pallidum, Treponema pallidum pertenue, Treponema pallidum carateum, dan Treponema pallidum endemicum.
Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum. Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral. Terdapat empat subspecies yang sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum pallidum, Treponema pallidum pertenue, Treponema pallidum carateum, dan Treponema pallidum endemicum.
Treponema pallidum pallidum merupakan spirochaeta yang bersifat motile
yang umumnya menginfeksi melalui kontak seksual langsung, masuk ke dalam tubuh
inang melalui celah di antara sel epitel. Organisme ini juga dapat menyebabkan
sifilis. ditularkan kepada janin melalui jalur transplasental selama masa-masa
akhir kehamilan.
Struktur tubuhnya yang berupa heliks memungkinkan Treponema pallidum
pallidum bergerak dengan pola gerakan yang khas untuk bergerak di dalam medium
kental seperti lender (mucus). Dengan demikian organisme ini dapat mengakses
sampai ke sistem peredaran darah dan getah bening inang melalui jaringan dan
membran mucosa.
C. Patofisiologi
Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyebabkan kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar alat kelamin.
Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyebabkan kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar alat kelamin.
D. Tanda
dan Gejala
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi;
rata-rata 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang
menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Infeksi oleh
Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
1. Fase
Primer.
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang
terinfeksi; yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga
bisa ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim,
jari-jari tangan atau bagian tubuh lainnya. Biasanya penderita hanya memiliki1
ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai
suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi suatu
ulkus (luka terbuka), tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan
darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular.
Kelenjar getah bening terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai
nyeri.
Luka tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak
dihiraukan. Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya
penderita tampak sehat secara keseluruhan.
2. Fase
Sekunder.
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu
ruam kulit, yang muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini
bisa berlangsung hanya sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak
diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian
akan muncul ruam yang baru.
Pada fase sekunder sering ditemukan luka di
mulut. Sekitar 50% penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di
seluruh tubuhnya dan sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata
biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf
mata sehingga penglihatan menjadi kabur.
Sekitar 10% penderita mengalami peradangan
pada tulang dan sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa menyebabkan
bocornya protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa menyebabkan sakit
kuning (jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada selaput
otak (meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala, kaku kuduk dan
ketulian.
Di daerah perbatasan kulit dan selaput
lendir serta di daerah kulit yang lembab, bisa terbentuk daerah yang menonjol
(kondiloma lata). Daerah ini sangat infeksius (menular) dan bisa kembali
mendatar serta berubah menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut mengalami
kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak gambaran
seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan
(malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.
3. Fase
Laten.
Setelah penderita sembuh dari fase
sekunder, penyakit akan memasuki fase laten dimana tidak nampak gejala sama
sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau
bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksi
kembali muncul .
4. Fase
Tersier.
Pada fase tersier penderita tidak lagi
menularkan penyakitnya. Gejala bervariasi mulai ringan sampai sangat parah.
Gejala ini terbagi menjadi 3 kelompok utama :
1)
Sifilis tersier jinak.
Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut gumma muncul di
berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh secara bertahap dan meninggalkan
jaringan parut. Benjolan ini bisa ditemukan di hampir semua bagian tubuh,
tetapi yang paling sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas,
wajah dan kulit kepala. Tulang juga bisa terkena, menyebabkan nyeri menusuk
yang sangat dalam yang biasanya semakin memburuk di malam hari.
2)
Sifilis kardiovaskuler.
Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa terjadi aneurisma
aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini bisa menyebabkan nyeri dada, gagal
jantung atau kematian.
3)
Neurosifilis.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.
a. Neurosifilis
meningovaskuler.
Merupakan suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang terjadi tergantung
kepada bagian yang terkena, apakah otak saja atau otak dengan medulla spinalis:
·
Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit
kepala, pusing, konsentrasi yang buruk, kelelahan dan kurang tenaga, sulit
tidur, kaku kuduk, pandangan kabur, kelainan mental, kejang, pembengkakan saraf
mata (papiledema), kelainan pupil, gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan
anggota gerak pada separuh badan.
·
Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala
berupa kesulitan dalam mengunyah, menelan dan berbicara; kelemahan dan
penciutan otot bahu dan lengan; kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis);
ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dan peradangan sebagian dari
medulla spinalis yang menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih
serta kelumpuhan mendadak yang terjadi ketika otot dalam keadaan kendur
(paralisa flasid).
b. Neurosifilis
paretik.
Juga disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila. Berawal secara
bertahap sebagai perubahan perilaku pada usia 40-50 tahun. Secara perlahan
mereka mulai mengalami demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam
berbicara, kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah tersinggung,
kesulitan dalam berkonsentrasi, kehilangan ingatan, sakit kepala, sulit tidur,
lelah, letargi, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian,
perubahan suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan kebesaran
dan penurunan persepsi.
c. Neurosifilis
tabetik.
Disebut juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit medulla spinalis
yang progresif, yang timbul secara bertahap. Gejala awalnya berupa nyeri
menusuk yang sangat hebat pada tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur.
Penderita berjalan dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan berjalan
dengan kedua tungkai yang terpisah jauh, kadang sambil mengentakkan kakinya.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih.
Bisa terjadi impotensi. Bibir, lidah, tangan dan seluruh tubuh penderita
gemetaran. Tulisan tangannya miring dan tidak terbaca. Sebagian besar penderita
berperawakan kurus dengan wajah yang memelas. Mereka mengalami kejang disertai
nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung. Kejang lambung bisa
menyebabkan muntah. Kejang yang sama juga terjadi pada rektum, kandung kemih
dan pita suara. Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa terbentuk luka
di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan pada akhirnya
sampai ke tulang di bawahnya. Karena rasa nyeri sudah hilang, maka sendi penderita
bisa mengalami cedera.
5. Gejala
sifilis kongenital (kelainan kongenital dini)
a. Kelainan
kongenital dini
·
Makulopapular pada kulit
·
Retinitis
·
Terdapat tonjolan kecil pada mukosa
·
Hepatosplenomegali
·
Ikterus
·
Limfadenopati
·
Osteokondrosis
·
Kordioretinitis
·
Kelainan pada iris mata
b. Kelainan
kongenital terlambat (lanjut)
·
Gigi hutchinnson
·
Gambaran mulberry pada gigi molar
·
Keratitis intertinal
·
Retaldasi mental
·
Hidrosefalus
E. Klasifikasi
Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten dan tersier. Tiap stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang berbeda-beda dan menyerang organ tubuh yang berbeda-beda pula.
Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten dan tersier. Tiap stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang berbeda-beda dan menyerang organ tubuh yang berbeda-beda pula.
1.
Stadium Dini atau I (Primer)
Tiga minggu setelah infeksi, timbul lesi pada tempat masuknya Treponema
pallidum. Lesi pada umumnya hanya satu. Terjadi afek primer berupa
penonjolan-penonjolan kecil yang erosif, berkuran 1-2 cm, berbentuk bulat,
dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya tampak meradang, dan bila diraba ada
pengerasan. Kelainan ini tidak nyeri. Dalam beberapa hari, erosi dapat berubah
menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat lainnya seperti pada afek
primer. Keadaan ini dikenal sebagai ulkus durum.
Sekitar tiga minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar getah bening di daerah lipat paha. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, tunggal dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium 1 kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat pula di bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu, cepat atau lambatnya bergantung pada besar kecilnya lesi
Sekitar tiga minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar getah bening di daerah lipat paha. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, tunggal dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium 1 kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat pula di bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu, cepat atau lambatnya bergantung pada besar kecilnya lesi
2.
Stadium II (Sekunder)
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I
sudah sembuh. Waktu antara sifilis I dan II umumnya antara 6-8 minggu.
Kadang-kadang terjadi masa transisi, yakni sifilis I masih ada saat timbul
gejala stadium II.
Sifat yang khas pada sifilis adalah jarang ada rasa gatal. Gejala
konstitusi seperti nyeri kepala, demam, anoreksia, nyeri pada tulang, dan leher
biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit.
Kelainan kulit yang timbul berupa bercak-bercak atau tonjolan-tonjolan kecil.
Tidak terdapat gelembung bernanah. Sifilis stadium II seringkali disebut
sebagai The Greatest Immitator of All Skin Diseases karena bentuk klinisnya
menyerupai banyak sekali kelainan kulit lain. Selain pada kulit, stadium ini
juga dapat mengenai selaput lendir dan kelenjar getah bening di seluruh tubuh.
3.
Sifilis Stadium III
Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi.
Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran milier sampai berdiameter beberapa
sentimeter. Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, termasuk tulang
rawan pada hidung dan dasar mulut. Guma juga dapat ditemukan pada organ dalam
seperti lambung, hati, limpa, paru-paru, testis dll. Kelainan lain berupa nodus
di bawah kulit, kemerahan dan nyeri.
4.
Sifilis Tersier
Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah sifilis kardiovaskuler dan
neurosifilis (pada jaringan saraf). Umumnya timbul 10-20 tahun setelah infeksi
primer. Sejumlah 10% penderita sifilis akan mengalami stadium ini. Pria dan
orang kulit berwarna lebih banyak terkena. Kematian karena sifilis terutama
disebabkan oleh stadium ini. Diagnosis pasti sifilis ditegakkan apabila dapat
ditemukan Treponema pallidum. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop lapangan
gelap sampai 3 kali (selama 3 hari berturut-turut).
Tes serologik untuk sifilis yang klasik umumnya masih negatif pada lesi primer, dan menjadi positif setelah 1-4 minggu. TSS (tes serologik sifilis) dibagi dua, yaitu treponemal dan non treponemal. Sebagai antigen pada TSS non spesifik digunakan ekstrak jaringan, misalnya VDRL, RPR, dan ikatan komplemen Wasserman/Kolmer. TSS nonspesifik akan menjadi negatif dalam 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil sehingga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengobatan. Pada TSS spesifik, sebagai antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema pallidum hemagglutination assay (TPHA) dan TPI. Walaupun pengobatan diberikan pada stadium dini, TSS spesifik akan tetap positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih bermakna dalam membantu diagnosis.
Tes serologik untuk sifilis yang klasik umumnya masih negatif pada lesi primer, dan menjadi positif setelah 1-4 minggu. TSS (tes serologik sifilis) dibagi dua, yaitu treponemal dan non treponemal. Sebagai antigen pada TSS non spesifik digunakan ekstrak jaringan, misalnya VDRL, RPR, dan ikatan komplemen Wasserman/Kolmer. TSS nonspesifik akan menjadi negatif dalam 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil sehingga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengobatan. Pada TSS spesifik, sebagai antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema pallidum hemagglutination assay (TPHA) dan TPI. Walaupun pengobatan diberikan pada stadium dini, TSS spesifik akan tetap positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih bermakna dalam membantu diagnosis.
F. Komplikasi
1. Komplikasi
Pada Janin Dan Bayi
Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus dan partus premature.
Bayi dengan sifilis kongenital memiliki kelainan pada tulang, gigi,
penglihatan, pendengaran, gangguan mental dan tumbuh kembang anak. Oleh karena
itu, setiap wanita hamil sangat dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan janin
yang dikandungnya. Karena pengobatan yang cepat dan tepat dapat menghindari
terjadinya penularan penyakit dari ibu ke janin.
2. Komplikasi
Terhadap Ibu
a. Menyebabkan
kerusakan berat pada otak dan jantung
b. Kehamilan
dapat menimbulkan kelainan dan plasenta lebih besar, pucat, keabu-abuan dan
licin
c. Kehamilan
<16 minggu dapat menyebabkan kematian janin
d. Kehamilan
lanjut dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan cacat.
G. Penularan
Sifilis bisa ditularkan atau diturunkan dari seorang ibu kepada anak dalam kandungannya. Sipilis kongenital, melalui infeksi transplasental terjadi pada saat janin berada di dalam kandungan ibu yang menderita sifilis. Penularan karena mencium atau pada saat menimang bayi dengan sifilis kongenital jarang sekali terjadi.
Sifilis bisa ditularkan atau diturunkan dari seorang ibu kepada anak dalam kandungannya. Sipilis kongenital, melalui infeksi transplasental terjadi pada saat janin berada di dalam kandungan ibu yang menderita sifilis. Penularan karena mencium atau pada saat menimang bayi dengan sifilis kongenital jarang sekali terjadi.
Cara penularan sifilis lainnya antara lain melalui transmisi darah. Hal
ini bisa terjadi jika pendonor darah menderita sifilis pada stadium awal. Ada
lagi kemungkinan penularan cara lain, yaitu penularan melalui barang-barang
yang tercemar bakteri penyebab sifilis, Treponema pallidum, walaupun itu baru
secara teoritis saja, karena kenyataannya boleh dikatakan tidak pernah terjadi.
Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa resiko penularan penyakit syphilis dapat terjadi jika :
Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa resiko penularan penyakit syphilis dapat terjadi jika :
1.
Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang
mengidap penyakit sifilis, jika tidak (pernah) melakukan hubungan seksual aktif
dengan penderita sifilis maka dia tidak akan punya resiko terkena penyakit ini.
2.
Ibu menderita sifilis saat sedang mengandung kepada
janinnya lewat transplasental.
3.
Lewat transfusi darah dari darah penderita
sifilis.
H. Pengaruh
Terhadap Kehamilan
Sifilis yang terjadi pada ibu yang hamil dapat mempengaruhi proses
kehamilannya dan janin. Berikut ini adalah pengaruh sifilis terhadap kehamilan
yaitu:
1. Infeksi
pada janin terjadi setelah minggu ke 16 kehamilan dan pada kehamilan dini,
dimana Treponema telah dapat menembus barier plasenta.
2. Akibatnya
kelahiran mati dan partus prematurus.
3. Bayi
lahir dengan lues konginetal : pemfigus sifilitus, diskuamasi telapak
tangan-kaki, serta kelainan mulut dan gigi.
4. Bila
ibu menderita baru 2 bulan terakhir tidak akan terjadi lues konginetal.
I.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriskaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Infeksi pada janin terjadi minggu 16 kehamilan dapat terjadi; partus prematurus, kelahiran mati, cacat bawaan pada janin. Diagnosis pada ibu hamil agak sulit di tegakkan karena pada ibu hamil terjadi perubahan hormon. Diagnosis dapat ditegakkan
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriskaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Infeksi pada janin terjadi minggu 16 kehamilan dapat terjadi; partus prematurus, kelahiran mati, cacat bawaan pada janin. Diagnosis pada ibu hamil agak sulit di tegakkan karena pada ibu hamil terjadi perubahan hormon. Diagnosis dapat ditegakkan
a)
Pemeriksaan serologik : VDRL (veneral diesses
research laboratory).
b)
Dengan mempergunakan lapangan gelap, untuk
membuktikan langsung terdapat spirokaeta treponea palidum.
c)
Fungsi lumbal untuk membuktikan neurosifilis.
J.
Penatalaksanaan dan Terapi
Wanita hamil dengan sifilis harus diobati sedini mungkin, sebaiknya
sebelum hamil atau pada triwulan I untuk mencegah penularan terhadap janin.
Suami harus diperiksa dengan menggunakan tes reaksi wasserman dan VDRL, bila
perlu diobati dangan terapi penisilin G injeksi. Penting untuk diketahui dalam
pemilihan obat-obatan untuk ibu hamil perlu memperhatikan pengaruh buruk yang
akan terjadi pada janinya. Sedangkan jenis pinisilin dan eritrosin merupakan
obat untuk ibu hamil yang tidak memberikan efek atau pengaruh buruk terhadap
janinnya.
K. Prognosis
Setelah menjalani pengobatan, prognosis untuk sifilis fase primer, sekunder dan fase laten adalah baik. Prognosis untuk sifulis fase tersier pada hati atau otak adalah buruk, karena kerusakan yang telah terjadi biasanya tidak dapat diperbaiki.
Setelah menjalani pengobatan, prognosis untuk sifilis fase primer, sekunder dan fase laten adalah baik. Prognosis untuk sifulis fase tersier pada hati atau otak adalah buruk, karena kerusakan yang telah terjadi biasanya tidak dapat diperbaiki.
L. Asuhan
Setelah Persalinan pada Penderita Sifilis
1.
Bila keadekuatan pengobatan pada ibu tidak
diketahui atau jika ibu tidak mendapatkan pinisilin ibu harus mendapatkan
terapi
2.
Diantara bayi yang selamat, banyak yang
menderita sifilis congenital yang dapat menyebabkan kecacatan fisik dan
retardasi mental.
DAFTAR
PUSTAKA
Varney, Helen, dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Edisi 4. Jakarta : EGC
Pawiroharjo, Sarwono.1998. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Pawiroharjo, Sarwono.1998. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Syaifudin, A.B.
2002. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarata :
Yayasan Bina Pustaka
Ratna, Eni, dkk. 2009. Asuhan Kebidanan Komuitas.
Yogyakarta : Nuha Medika
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
www.scrib.com
www.megastro.com
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
www.scrib.com
www.megastro.com
